November 19th, 2007 by intan-yusans
Cuaca mendung. Sudah berhari-hari ini Jakarta diguyur hujan. Pohon-pohon tumbang, got-got menyemburkan air kepenuhan, jalanan super macet. Pemandangan biasa yang makin parah setiap hari itu tak sebanding dengan perasaannya hari ini. Dadanya penuh, nyaris sulit untuk bicara. Ia sedang bahagia.
Matanya seperti biji almond, coklat, dan bersorot tajam, mengerjap-ngerjap tanda suka cita. Jika ia tak punya bibir, matanya pun cukup untuk menggambarkan kebahagiaannya saat ini. Namun, ia masih punya sepasang bibir mungil yang selalu berhias senyum dan tawa di sela kisahnya.
"Aku bahagia, ya aku bahagia…," ucapnya dengan mata yang mengerjap indah disela-sela bulu mata dan alisnya yang pekat, dan bibir yang terpulas senyum. Manis. Cerah. Ranum. Tapi hampa. Ya, tak ada kata lain selain hampa yang cocok disematkan dibalik bahagianya kali ini. Bahagia yang sangat jarang ia rasakan. Kenapa? Karena terkadang ia bodoh. Terlalu bodoh untuk dirinya sendiri.
Mata almond coklatnya kini menerawang. Bibir mungilnya mulai terkatup. Ia menatap jauh menembus meja yang ada dihadapannya. Ia mulai membayangkan masa depannya. Bahagia yang tadi tercurah melimpah kini menyusut pelan-pelan. Nyaris kering. Ada ketakutan dibalik bahagianya. Ia takut untuk meneruskan bayangannya yang melintas cepat di pikirannya.
"Hmm..," hanya itu yang keluar dari sisa senyumnya. Ia kembali senyum dengan mata almond yang kembali mengerjap-ngerjap. Ia berusaha keras mengembalikan nuansa masa lalu yang memberikannya bahagia saat ini. Kisah yang memompa dadanya penuh dengan aroma bahagia.
"Aku tidak suka. Tapi aku mulai sering membayangkannya," tuturnya dengan mata almond coklat yang mampu menyedot seluruh energi lawan bicaranya. Matanya kembali menerawang. Jauh, semakin jauh menembus meja yang ada dihadapannya. Pelan-pelan, bayangan itu mulai kusut, lalu pecah berantakan. Ia menutup mata almond coklatnya. Kedua tangannya bertumpu di atas meja dan menutupi seluruh wajah mungilnya.
Kini mata almond coklat itu meleleh. Seperti coklat terkena bara api. Wajahnya memerah. Ia menangis. Khawatir, takut, bersatu dalam bahagianya. "Ingin kubunuh perempuan itu!" bisiknya sambil menekan seluruh geliginya. Tangannya terkepal. Mata almond itu kini menyala berkilatan. Bahagianya lenyap, berganti aramah yang entah dari mana datangnya. Jahat betul ucapannya…
-intan-
19.11.07
Posted in Uncategorized | 7 Comments »
November 5th, 2007 by intan-yusans
Jam 22.00 baru saja lewat. Ia menstarter motornya menembus udara malam yang lembap dan basah. Baru saja hujan lebat mengguyur kota kecil di belahan Jawa yang sunyi, nyaman, dan sejahtera. Sampai di depan rumah yang dijadikan markas orang-orang idealis yang gemar kerja bakti, ia membuka helm dan menuntun motornya masuk ke pekarangan di balik pagar yang tak terkunci.
Rumah kosong. Ia tarik anak kunci dari blue jeans kumalnya. Klik. Pintu terbuka. Udara apek menyergap hidungnya. Ruangan gelap. Ia terus masuk menuju ruang di bagian belakang rumah. Sebuah kamar cukup besar yang disulap jadi ruang kerja. Ada meja kerja besar, 3 kursi kayu, poster-poster berbau propaganda, dan rak-rak besar menyentuh langit-langit penuh buku.
Lampu ruangan ia nyalakan. Ia geser kursi kayu dan mengempaskan pantat teposnya di sana. Ia menyulut rokoknya. Seringai kecil muncul ditingkahi asap rokok yang baru saja diembuskannya. "Hmm…," cuma itu yang keluar dari mulut hitamnya yang terlalu sering menyerap nikotin dan tar, kadang tanpa filter.
Dari kejauhan sayup-sayup ia dengar suara mesin motor menderu. Ada kemarahan di sana. Lama-lama suara mesin motor semakin dekat dan tak berjarak. Ia tak beranjak dari kursinya, seolah tak ada apa-apa.
Benar saja, mesin motor dimatikan tepat dipekarangan. Tak lama, terdengar suara langkah kaki bergegas memburunya. Ia tidak kaget. Sejak awal ia telah tahu rencana kedatangannya, meski tanpa kabar.
Ia tetap merokok sambil menatap perempuan yang baru saja datang. Si perempuan menarik kursi kayu lainnya dengan beringas. Mengambil sebatang rokok dari kotak yang tergeletak di meja, milik lelaki di hadapannya. Ia menyulutnya dengan terburu-buru, seolah waktu tinggal sejengkal lagi. Tangannya gemetar. Matanya merah, nyalang. Benar-benar muntab perempuan ini.
"Keparat!" kata itu meluncur hanya sampai kerongkongan si perempuan. Ia tidak sanggup mengeluarkan suaranya. Udara dingin dari luar diam-diam semakin merangsek masuk melalui pintu depan yang tak ditutupnya. Mereka berdua tekun dalam diam. Hanya saling menahan tatap, penuh kemarahan. Urat-urat di sekeliling kornea si perempuan mengalami varises, bola matanya nyaris keluar.
Ia pun diam, tak bertanya atau menyapa. Ia muak pada perempuan di hadapannya. Ia lalu bangkit dan mengambil botol Manson yang tinggal setengah isinya, dari sela-sela rak buku. Ia sodorkan botol ke arah sang perempuan setelah ia meneguknya beberapa kali. Tubuhnya menghangat. Jalaran hangatnya sampai ke matanya. Matanya kini ikut nyalang.
Si perempuan menyambut botol minuman itu. Tubuhnya ikut hangat. Varises di urat-urat matanya mengendur. Merah di matanya mulai pudar pelan-pelan. Si perempuan mulai tenang. Tapi ia gelisah. Ia tak sanggup lagi saling menahan tatap dengan lelaki di hadapannya. Pelan-pelan si perempuan beringsut bangkit. Ia tinggalkan lelaki di hadapannya. Dipacunya kuda besi itu sekancang-kencangnya.
Kini ia sendirian lagi. Ia teguk habis sisa Manson dari botolnya. Ia nyalakan lagi rokoknya dan dihisapnya dalam-dalam. Paru-parunya menciut. Napasnya mulai sesak. Tapi ia gengsi untuk batuk, meski tak ada siapa pun di sana. Semakin ia tahan, batuknya semakin menjadi. Darah hitam keluar dari mulutnya. Itu sudah biasa. Lalu, ia menelungkupkan kepalanya di ganjal sebelah tangannya di atas meja. Ia kelelahan menahan nyeri di dadanya.
*
Pagi sepertinya tergesa datang. Hari cukup cerah, tidak mendung seperti kemarin. Rumah masih sepi. Hanya pintu depannya saja yang terbuka lebar. Embun mulai membasahi lantai pekarangan. Tukang sayur di depan jalan kompleks perumahan mulai bersahut-sahutan. Para pembantu dan Ibu Rumah Tangga mulai berbelanja sambil bergosip.
Ia seperti bermimpi. Berjalan terseok, telanjang bulat ke arah titik cahaya di ujung yang entah di mana. "Mungkin cahaya itu berasal dari sinar petromak di Surga," benaknya mulai menduga-duga. "Bukan! Mungkin itu percikan api dari bara di dasar Neraka," benaknya mulai ragu, sekaligus khawatir. Ia sendirian, benar-benar sendirian.
Satu-satu, orang-orang penggemar kerja bakti mulai datang dengan motor yang diparkir di pekarangan rumah. Mereka tak heran dengan pintu yang terbuka lebar. Mereka pikir sudah ada yang datang lebih dulu. Mereka melihat dirinya masih menelungkupkan kepala dengan sebelah tangan terjuntai ke bawah, kedua jarinya masih menjepit rokok yang sudah mati.
Temannya memanggil-manggil namanya. Ia tidak bangun. Mereka teriakkan namanya tepat di kupingnmya. Ia masih diam. Tubuhnya digoncang-goncang. Tetap tidak bergerak. Ia terus diam. Tapi ia mulai mendengar kepanikan dan kehebohan di sekeliling telinganya. Seperti di pempat kapas, suara bising di sekitarnya cuma lamat-lamat. Ia kembali terseok, menuju titik cahaya segala entah. Semakin jauh ia dari kepanikan, dari rumah, dari teman-temannya, dari perempuan semalam…
"Aku benar-benar mati sekarang…," benaknya mulai yakin.
-intan-
06.11.07
Posted in Uncategorized | 1 Comment »
October 29th, 2007 by intan-yusans
Malam baru saja pergi. Semburat kuning mulai memasuki jendela kontrakan Yanto, yang kotor, sempit, dan lembap, melalui lubang-lubang bekas sundutan rokok di gordennya sudah sudah tidak berwarna, buluk, bahkan bau . Benny, sepupu Yanto, baru saja tiba semalam dari Cianjur. Benny berharap bisa mengikuti jejak Yanto yang dianggapnya sukses di Jakarta. Ha…belum tahu aja si Benny!
Yanto bangun dan langsung melenggang ke arah WC yang berjarak tak lebih dari 2 meter dari tempat tidur (kasur) lapuknya. Benny ikut melek, tapi masih enggan untuk bangun. Ia membayangkan pekerjaan apa yang bakal ia jalani bersama Yanto. Ia penasaran. Semalam Yanto bungkam. Tapi Benny mulai curiga saat melihat raut wajah Yanto untuk pertama kali setelah bertemu kembali, sejak 10 tahun lalu.
"Jangan-jangan gw…," benak Benny bertanya-tanya. Sebelum pertanyaan di benaknya semakin liar, urat lapar Benny meronta. Ia comot gelas di samping kasur lapuk milik Yanto, yang semalam ia pakai untuk menyeruput kopi tubruk. Ia korek ampas kopi dengan telunjuknya. Ia buang sisa ampas kopi semalam ke dalam asbak lebar penuh puntung segala jenis merk rokok.
Botol air mineral isi 1 ltr itu tinggal seperempat. Ia tuang airnya ke dalam heater yang sudah hangus sebelah. "Hmm…untung masih bisa bikin panas aer…," keluh Benny. Ia seduh lagi kopi sebagai sarapan pagi itu. Heran, Yanto belum keluar juga dari WC. Jangan sampe dia meneruskan tidur di atas closet sambil jongkok!
"Mandi Ben!" teriak Yanto sambil melempar handuk basah ke arah sepupunya. Benny terkesiap. Ia tak menyangka sepupunya sudah berubah. Semalam ia tidak begitu jelas melihat perubahan penampakan Yanto. Mungkin karena ia rabun senja.
Benny mandi, pelan-pelan. Air di bak nyaris tandas. Giliran Yanto bersiap-siap untuk bekerja. Masih jam 8. Yanto menyiapkan kostum kerjanya. Ia semprotkan minyak wangi bau kembang tak jelas di sana. Ia siapkan sepatu bertalinya. Rambutnya yang gondong ikal, disisirnya ke arah belakang dan diikatnya dengan karet gelang.
Benny lagi-lagi terkesiap. Antara siap dan tidak, ia harus terima kondisi sepupunya, Yanto. Ia bingung. Ingin rasanya ia kembali ke Cianjur saat itu juga. Tapi ia kasihan melihat Yanto. Ia juga ingin merasakan punya uang saku di Jakarta. Ia terpaksa menerima tawaran Yanto. "Bawa tipdek-nya ya, Ben!" Benda kotak hitam yang nyaris seukuran mesin penghancur kertas itu mampu menyetel kaset karaoke dangdut. Tapi beratnya minta ampun.
Yanto menyewa ‘tipdek’ karaoke itu dari Bang Husni. Sehari ia harus setor sekitar 35 ribu sekaligus sebagai ganti uang sewa tipdek bersuara super cempreng nan sember. Tapi Yanto memilih jadi pengamen, dari pada jadi pengemis. Sudah hampir dua tahun ia ngamen. Biasanya Yanto ikut bus trayek Senen-Cimone. Lumayan, kalo lagi rame sehari ia bisa dapet sampe 60 ribu. Sisa setoran, masih bisa ia pake buat makan dan beli rokok. Bayar kontrakan sebulan 250 ribu? kadang-kadang nunggak!
Benny gengsi setengah mati ngangkut kotak hitam ajaib itu keluar masuk terminal, naek turun bus. Rasanya pengen banget Benny nyusruk di balik mesin bus reot pembawa penumpang hingga ujung Tangerang. Tapi ia tahan rasa malunya hingga nyaris pengen pipis di celana. Kadang-kadang matanya berair menahan malu yang amat sangat. Tapi ia tidak mau mengecewakan Yanto, yang sudah mau memberikannya tumpangan semalam.
"…Perasaan kemarin ada…Sekarang kok enggak ada! Bang gope doooong!" dengan suara sengau khas waria, Yanto menyanyi di depan Bang Jupri tukang asongan rokok di terminal Senen. Benny cuma bisa menghela napas panjang, hingga sesak dan nyaris muntah. Yanto menyentuh dadanya yang tak berbuah, ia betulkan letak kaos kaki yang ia sumpalkan ke dalam BH yang ia beli di pasar Palmerah tempo hari. "Gw belom berani nyuntik toket, Ben! Lagian duitnya juga belom ngumpul!" ujar Yanto dengan suara laki-laki lagi.
Benny cuma bisa menunduk dalam-dalam. Semakin lama semakin dalam dan dia benar-benar pengen nangis. "A Yanto, gw pulang aja ya sekarang. Kayanya Emak nyariin gw deh. Soalnya kemaren gw ke Jakarta, enggak bilang-bilang sama Emak. Nanti saya sampein salam A Yanto ke Emak deh."
Benny menyerahkan kotak hitam ajaib itu ke Yanto yang menatapnya penuh rasa kecewa. Benny berjalan cepat-cepat dan langsung naik bus, entah jurusan apa. Yang penting dia bisa pulang lagi ke Cianjur. Lebih baik ia jadi tukang angkat beras di pasar Cipanas daripada jadi tukang angkat kotak hitam ajaib milik Yanto alias Yanti…
-intan-
30.10.07
Posted in Uncategorized | No Comments »
October 19th, 2007 by intan-yusans
Rancaekek, satu mayat perempuan ditemukan di sumur belakang rumah dan dua orang balita tewas dengan kondisi basah kuyup, salah satunya ditemukan bekas muntahan susu.
Motif pembunuhan, masih belum diketahui. Pelaku, masih belum diketahui. Kasus, masih dalam pengembangan, penyidikan polisi.
Jakarta Barat, satu mayat perempuan dimasukan ke dalam koper dan dibuang ke kali Ancol. Satu pria tewas -disebut-sebut sakit jantung, lalu dikremasi.
Motif pembunuhan, dendam anak sama ayah dan ibu tirinya, karena tidak diberi pinjaman uang sekitar 60 juta. Pelaku, anak laki-laki dari si ayah yang dibunuh.
Kronoligis, ayah dibekap bantal saat tidur nyenyak. Tindakan si anak diketahui ibu tiri. Si anak mengunci ibu tiri di kamar mandi. Lalu si ibu dikeluarkan dari kamar mandi dan tengkuknya dipukul tongkat bisbol. Ibu tiri masih hidup, dimasukan ke koper dan dibuang ke kali Ancol.
Sadis!
Semarang, seorang ibu meninggalkan kedua anaknya di dalam mobil dengan mesin hidup selama 4 jam. Pembantu rumah tangganya yang baru 3 hari kerja pun disekap di dalam kamar selama 12 jam.
Si ibu nekat pergi ke Jawa Timur. Diantar mantan suaminya ke sebuah pesantren. Diduga sering ribut dengan suami keduanya.
Depresi!
Semua peristiwa terjadi di hari yang masih tergolong fitri…
(Dari berbagai sumber)
-intan-
19.10.07
Posted in Uncategorized | No Comments »
October 17th, 2007 by intan-yusans
Sebagian isi Jakarta kosong, sudah sejak seminggu sebelum lebaran. Semua sibuk pulang ke kampung untuk merayakan ketupat, opor, dan rendang buatan Emak, Embah, Eyang, Nenek. Saling mencari suasana haru, seru, kangen, dan segala nostalgia.
Tapi ia tidak. Ia ikut arus mudik sambil memerah tenaga di tengah orang-orang menikmati libur panjang lebaran. Ia berikan segenap jiwa-raganya untuk membahagiakan orang lain di Hari yang Fitri.
Ia masih bisa bertemu orang tua, adik-adik, dan anak semata wayangnya. Tapi ia tak bisa berlebaran bersama orang terkasihnya. Ia berkorban demi kebahagiaan orang lain. Sudah dua tahun ia menjalani ini. Tapi ia tak mengeluh. Mungkin tak sempat. Entah isi hatinya. Mungkin menjerit.
Saya sangat terkesan. Hari ini ia pulang, kami berpisah. Saling minta maaf dan bertukar rasa terima kasih. Mungkin kami akan merindukan saat-saat bersamanya…Minal Aidin wal Faidzin, Maaf Lahir Bathin!
-intan-
17.10.07
Posted in Uncategorized | No Comments »
October 5th, 2007 by intan-yusans
Kapan kamu berdoa? Pagi, siang, malam? Atau setiap saat? "Saya berdoa setiap mau tidur." Lainnya, "Saya punya ritual selalu berdoa sebelum mandi." Lainnya lagi, "Saya sih, enggak kenal waktu, setiap saat pasti berdoa." Yang lainnya, lainnya lagi, "Saya juga, sebelum melakukan apa pun, pasti diawali dengan doa."
Di sudut paling ujung ruangan ini berkumandang samar-samar lantunan doa dari radio tua. Menyayat, mengiris, pilu. Di sudut hati saya yang paling pojok, saya berdoa, tulus, jujur, lepas. "Ya, Tuhan …"
-intan-
05.10.07
Posted in Uncategorized | No Comments »
October 2nd, 2007 by intan-yusans
20 menit lagi menjelang buka puasa, saya memilih jalan kaki menuju satu rumah makan bermenu serba Timur Tengah. Awalnya menyegarkan bisa berjalan kaki di pinggir jalan sembari ditingkahi semilir angin.
Saya pikir hanya sekitar beberapa jengkalan saja untuk sampai ke tempat yang ingin saya tuju. Ternyata cukup jauh juga. Lama-lama baju saya mulai lengket di punggung. Keringat saya mulai mengucur cukup deras. Di dahi, pelipis, mengalir ke pipi, mata, telinga, leher…nyaris basah kuyup.
Ah…tinggal 3 blok lagi saya akan sampai ke sana. Saya sudah berniat sejak siang akan memesan nan pisang keju-nya yang terkenal enak. Hmm…ternyata 3 blok cukup menguras keringat saya untuk keluar lebih banyak lagi. Baju saya semakin lengket, tak cuma di punggung, tapi juga di dada, ketiak, dan perut!
Nah, itu dia. Saya tinggal menyebrang dan sampailah saya di depan pintu rumah makan bermenu Timur Tengah itu. Saya memesan nan pisang keju yang enak itu. Adzan Maghrib kurang 5 menit lagi. Saya lalu memesan sebotol minuman teh.
Lalu saya berniat ingin membeli siomay dan baso tahu untuk berbuka di warung tenda sebelah rumah makan ini.
"Mbak, ini kurma sama es buahnya untuk berbuka puasa, sambil menunggu nan pisang kejunya matang," kata pelayan berbaju batik yang murah senyum itu. Bedug berkumandang. Saya menatap kurma kering manis di depan saya. Saya sruput teh dalam botol, saya habiskan es buah yang sudah merampas kerongkongan kering saya sejak 5 menit yang lalu.
Lalu saya mencomot 1 kurma kering, hitam yang manis. Serasa sedang berada di Timur Tengah betulan. 1 kurma lagi saya comot dan habiskan. Sisa kurma di atas piring kecil tinggal 2 biji. Perut saya penuh air, kenyang sejenak. Setelah nan pisang keju hangat berada di tangan, saya pamit dan memberi sekadar tip untuk si pelayan murah senyum.
Saya ke warung tenda sebelah. Sialan! siomaynya belom ada. Saya berjalan lagi dengan perut penuh air. Tapi mulut ingin mengunyah sesuatu yang keras, semacam nasi. Ketemulah bubur ayam Cirebon. Saya pesan 1 bubur biasa dengan 1 sate ati- ampela dan 1 pastel dengan bumbu kacang yang lumayan saja rasanya. Tidak meninggalkan kesan seperti sedang berada di Cirebon.
Kemudian saya menyebrang jalan. Mulut dan perut saya sudah cukup penuh. Saya stop kopaja yang kemudian membawa saya kembali ke Kebon Jeruk, setelah sepintas lalu saya mampir ke Timur Tengah dan Cirebon dalam satu waktu yang sama…sambil merasai hangatnya pantat kardus nan pisang keju yang harum menggoda bulu-bulu hidung…
-intan-
02.10.07
Posted in Uncategorized | No Comments »
September 13th, 2007 by intan-yusans
"We
Might As Well Be Strangers"
By Keane
I don’t know your face no more
Or feel your touch that I adore
I don’t know your face no more
It’s just a place I’m looking for
We might as well be strangers in another town
We might as well be living in a different world
We might as well
We might as well
We might as well
I don’t know your thoughts these days
We’re strangers in an empty space
I don’t understand your heart
It’s easier to be apart
We might as well be strangers in another town
We might as well be living in a another time
We might as well
We might as well
We might as well be strangers
Be strangers
For all I know of you now
For all I know of you now
For all I know of you now
For all I know
-intan-
13.09.07
Posted in Uncategorized | 1 Comment »
September 7th, 2007 by intan-yusans
Baru aja Pemimpin Rusia, Vladimir Putin, hengkang dari Jakarta setelah ikut berpartisipasi di acara Forum Bisnis Indonesia-Rusia di Ritz-Carlton Hotel, Jakarta, Kamis (6/9) lalu.
Sekitar jam 14.00, saya naik bis P77 dari Senen menuju gerbang tol Kebon Jeruk. Di kawasan Monas, bis yang saya tumpangi dan sejumlah kendaraan lain terhenti. Bunyi ngiung-ngiung sirene dari motor gede polisi pengawal presiden terdengar memecah gendang telinga. "Wah, Presiden Putin lagi lewat tuh! Mungkin mau menuju bandara buat balik ke Rusia," kata saya dalam hati.
Sampai di kantor saya buka detik.com. Sebagian besar beritanya diisi sama laporan hasil pertemuan pebisnis Indonesia dan Rusia di Hotel Ritz-Carlton yang baru aja terjadi. Di meja kerja saya Majalah TEMPO terbaru pun sedang menganga. Tepat dihalaman yang mengulas tentang sejarah Rusia, juga keberhasilan Putin membangunkan beruang merah untuk bangkit dari keterpurukan.
Wajah Putin lebih cocok memerankan tokoh antagonis, sangat stereotipe. Antagonisme ini didukung juga oleh berbagai berita yang mengguncang di Rusia (terutama soal dugaan Putin terlibat dalam melenyapkan nyawa, antara lain dua tokoh popular di sana, mantan anggota KGB dan wartawan perempuan yang tewas tiba-tiba alias dibunuh!)
Di sisi lain, dengan sorot mata tajamnya, sisiran rambut klimisnya, serta sungging sinisnya, yang lebih mirip Drakula ciptaan Bram Stoker, Putin berhasil membangun dinding ekonomi Rusia. Melunasi utang-utang luar negeri hingga tandas dan meraup devisa hingga mencapai US$200juta. Benar-benar luar biasa!
Uni Sovyet memang sudah runtuh. Namun, akankah Putin menjadikan Rusia sebagai reinkarnasi Uni Sovyet? Hehehe…(analisa yang absurd dari saya).
-intan-
07.09.07
Posted in Uncategorized | 1 Comment »
August 3rd, 2007 by intan-yusans
Kampanye "Jangan Bugil Di Depan Kamera" amat sangat menarik! Kemarin saya ketemu kedua motivator Jangan Bugil Di Depan Kamera, Sony Set dan Peri Umar Farouk (ternyata Peri Umar ini temennya laki gw hehehe…Jakarta mah sempit euy!).
Kenapa sih jangan bugil di depan kamera? Toh, orang bebas-bebas aja menggunakan handphone camera ato camcoder-nya buat merekam adegan paling intimnya itu. Mereka punya kebebasan hak atas tubuh mereka. "Buat koleksi pribadi, iseng aja kok!" begitu kata banyak ABG, anak SMA, kuliahan, bahkan PNS, sampe Bupati dan Anggota Dewan yang Terhormat segala!
Soal beginian nih, yang bikin Mas Sony dan Mas Peri prihatin. Mereka mulai gerilya sejak April lalu dan ngajak, terutama, anak muda Indonesia buat sadar sama konsekuensi yang harus mereka tanggung jika hasil rekamnnya nyebar via internet lalu di-download gratis dan diekspos abis-abisan sama orang-orang yang haus adegan seks dengan kata lain vouyerism.
Menurut Mas Sony, yang juga berhasil bikin buku "500+ Gelombang Video Porno Indonesia - Jangan Bugil Di Depan Kamera" (Penerbit Andi Offset, Jogjakarta 2007), fenomena video porno amatir berdurasi pendek yang dibikin a la dokumenter pribadi ini udah amat sangat mengkhawatirkan banget!
"Ada 6 gelombang fenomena video porno di Indonesia. Pertama, karena iseng. Kedua, karena pengorbanan atas nama cinta. Ketiga, alasan komersial atau demi duit. Keempat, pencurian gambar/ video dan pelecehan dengan kamera tersembuyi. Kelima, kriminal (terjadi di Malang, seorang mahasiswa dalam keadaan tidak sadar diperkosa ramai-ramai dan direkam. GILA!). Dan keenam, pornografi anak. Antara lain kasus incest atau pedofilia. Gelombang keenam ini yang akan merusak dua generasi sekaligus."
Duh, ngeri deh, liat data statistik yang ditemukan Mas Sony dan dibahas dengan cukup gamblang di bukunya. Mas Peri yang sekarang konsen di kampanye ini juga tak kalah membuat ngeri ketika mengungkap banyak fakta di lapangan.
"Mira Lesmana dan Riri Riza sempat curiga dengan kampanye yang kita bikin ini. Mereka tadinya khawatir kita akan masuk ke wilayah kebebasan berekspresi dalam membuat film atau menganggu ranah seni. Padahal kami tidak akan sampai ke situ. Karena kami sadar kreatifitas dalam membuat karya film, sastra, dan seni, tak bisa dibatasi. Lagian toh mereka sudah punya lembaga sensor sendiri," tambah Mas Peri.
Mas Sony dan Mas Peri hanya ingin memberi penyadaran sama anak-anak muda di Indonesia supaya lebih berhati-hati dalam menggunakan teknologi yang perkembangannya sulit tertandingi ini.
Mereka bilang, alangkah baiknya jika anak muda punya kegiatan lain dengan camcoder-nya, daripada ngesyut dirinya sendiri dan pasangannya di kala bugil. Mereka juga bilang, ngesyut diri sendiri dan pasangan saat bugil, sama saja seperti menodongkan senjata ke kepala sendiri.
Kampanye yang enggak mudah, karena di dalam salah satu lembar bukunya Mas Sony menulis begini, "…sebuah perlawanan tidak seimbang, antara kegilaan terhadap jutaan materi pornografi dunia melawan teriakan sayup-sayup dari jiwa-jiwa yang gelisah…"
Mungkin dalam hitungan bulan kampanye yang tujuannya mulia ini akan terbawa debu sepatu seorang tentara yang baru aja nginjek tai ayam di depan mushala dekat kandang kambing di salah satu kampung. Tapi secara pribadi saya mendukung kampanye ini.
Kenapa saya mendukung? Karena saya sadar betul, sebagai perempuan, saya selalu dibuntuti oleh ketakutan ketika berada di dalam kamar hotel, ketika saya harus dinas ke luar kota. Atau ketika saya mencoba baju, celana, underwear di salah satu fitting room yang mojok. Atau ketika saya sedang berganti baju atau mandi di fitness center dan kolam renang, atau ketika saya pipis di salah satu mal (ingat: gelombang keempat!).
So, Jangan Bugil Di Depan Kamera sepertinya sebuah ajakan yang sangat layak untuk direnungkan. Kalau bugil di depan pasangan tanpa kamera? Huhehehehe…(renungkan aja sendiri kaleee!)
-intan-
03.08.07
NB.
Untuk menambah informasi seputar Jangan Bugil Di Depan Kamera, bisa klik www.tvlab.blogspot.com dan www.janganbugildepankamera.org atau kontak: info@janganbugildepankamera.org
Posted in Uncategorized | No Comments »